Si Kecil Adalah Pelaku Bullying?? Ini Solusinya

Si Kecil Adalah Pelaku Bullying?? Ini Solusinya – Mama sudah baca artikel ini Apakah Si Kecil Adalah Pelaku Bullying?  dan rupanya si kecil adalah pelaku bullying di sekolah.. Hmm, mama jangan takut lakukan beberapa hal ini agar si kecil dapat berubah jadi lebih baik lagi. Eh, mama sebelum di baca dishare dulu ya.. biar mama lain pun bisa menyelesaikan masalahnya dengan cepat agar si kecil tidak jadi korban bullying oleh orang lain.

1. Bicaralah dengan hati-hati kepada si kecil

Bicaralah dengan anak Anda tentang hal terkait intimidasi. Bukan dengan menyalahkan mereka. Tapi dengan mencari tahu penyebabnya mengapa anak jadi pelaku bullying.

Misalnya, apa yang membuatnya mem-bully temannya? Apakah karena ketidakpercayaan diri, superioritas, mode, kecemburuan, atau motif balas dendam.

Artikel terkait: Apakah Si Kecil Adalah Pelaku Bullying?

Cari tahu bagaimana caranya bergaul dengan anak lain selama ini. Jangan-jangan anak jadi pelaku bullying karena tidak tahu apa yang dia lakukan termasuk intimidasi sehingga dirinya sendiri memiliki masalah seputar konsep yang salah dan benar.

Beberapa anak mem-bully teman-temannya karena hanya jengkel. Misalnya, karena dia merasa temannya terlalu menjengkelkan, genit, caper, dan pembenaran lainnya. Yang terburuk, beberapa tidak ragu mem-bully anak berkebutuhan khusus.

Jika anak membenarkan tindakan intimidasi, tekankan konsep kesetaraan manusia, kedamaian, dan pentingnya saling mendukung antar sesama.

2. Ibaratkan jika si kecil menjadi korban

Karena dia lebih kuat, dialah yang adalah pemenangnya. Bayangkan jika suatu hari dia tidak sekuat sekarang, akankah dia rela di-bully?

Salah satu cara untuk membuat anak menyadari kesalahannya sebagai agen pengganggu adalah dengan menganggap bahwa suatu hari ia bisa digantikan oleh orang yang lebih kuat. Orangtua perlu menanamkan konsep bahwa orang kuat harus melindungi yang lebih lemah, daripada memakannya.

3. Bermain Peran

Bermain peran adalah stimulasi yang tepat agar anak Anda bisa belajar menghadapi berbagai situasi di depannya. Misalnya, Anda bertindak sebagai anak dengan kebutuhan khusus, anak yang menyebalkan, anak yang mudah menangis, dan peran lainnya.

4. Tidak Mentolerir Intimidasi

Katakan pada anak bahwa dalam keluarga Anda, intimidasi bukanlah sikap yang bisa dibenarkan. Tekankan nilai bagus yang dipahami keluarga Anda.

Sebenarnya, tindakan membalaskan kekejaman anak lain dengan kekasaran juga tidak benar. Jika anak Anda ternyata lebih kuat secara fisik, maka dikhawatirkan anak Anda akan dikenai tuduhan penganiayaan terhadap orang lain.

Jika anak masih berusia balita dan suka memukul temannya, jangan menyepelekan tindakan tersebut dan membenarkan bahwa ‘namanya juga anak kecil’. Sikap yang benar adalah memberitahu bahwa perbuatannya salah dan ia tidak seharusnya menyakiti temannya.

Apabila orangtua menoleransi perbuatan buruk anak dengan alasan dia masih kecil, maka anak akan merasa berhak bertindak sewenang-wenang hanya karena ia masih kecil. Padahal di masa anak-anak inilah masa penting soal kebaikan dan kasih sayang.

Lakukan konseling dengan psikolog profesional jika diperlukan. Beberapa anak memang memiliki masalah dengan empati pada orang lain.

Sumber : theasiaparent

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *