Seribu Satu Cerita Bersama DomaiNesia

Majalah Spesial Edisi DomaiNesia

Di abad 21 sekarang ini sudah tidak ada kata sulit untuk mendapatkan informasi, semua semudah membalikkan telapak tangan. Setuju tidak?

Kalau setuju, yuk kita lanjut baca. Kalau tidak setuju, kita selesaikan baca juga ya^^

Sewaktu penulis majalah ini masih sekolah, untuk menyelesaikan PR sekolah harus membaca buku untuk mencari jawabannya. Bahkan terkadang harus membeli buku tambahan di toko buku untuk mendapatkan jawabannya. Ada juga tidak ada jawabannya sama sekali dari semua buku yang telah dibaca. Bingung kan? Kalau sekarang, masih adakah alasan tidak menemukan jawaban dari PR sekolah?

Semua jawaban bisa didapatkan dari mesin pencari yang sudah akrab dalam keseharian kita, yaitu Google. Bukan hanya bidang IT yang berkecimpung dengan Google, semua bidang sudah tidak terlepas dari dunia IT. Sekarang adalah eranya Internet.

Begitu juga dengan bisnis konvensional yang berlomba-lomba menjual produk-produknya menggunakan media website. Website adalah media standar untuk berbisnis. Bagi yang berlatar belakang IT bisa membuat website untuk berjualan tanpa perlu mengeluarkan uang sepersenpun. Tapi, jika orang yang tidak berlatar belakang IT apakah tidak bisa berjualan online? Sebenarnya bisa, karena sudah banyak marketplace berantrian menerima penjual untuk berjualan secara online.

Masa-Masa Disruption

Sekarang ini adalah masa-masanya disruption. Disruption adalah sinergi inovasi antara bisnis dan teknologi. Disruption terjadi karena adanya perubahan cara-cara berbisnis yang dulunya sangat menekankan owning (kepemilikan) menjadi sharing (saling berbagi peran, kolaborasi resources). Jadi kalau dulu semua perlu dimiliki sendiri, dikuasai sendiri, sekarang tidak lagi. Sekarang kalau bisa justru saling berbagi peran. Itulah yang disebut disruption.

Implementasi yang paling jelas bisa kita liat adalah website marketplace. Jadi bagaimana nich caranya membuat website? Apa aja yang mau dilakukan setelah memiliki website sendiri?

1. Domain

Ketika Anda mengetik www.google.co.id, majalah.hepimama.com, dll, itu disebut sebagai alamat website. Alamat website adalah nama domain yang berfungsi untuk mempermudah pengguna internet dalam mengakses suatu website serta mempermudah mengingat alamat website yang akan diakses daripada harus menggunakan sederetan angka-angka rumit yang disebut alamat IP.

Jika ingin mengakses situs web www.google.co.id, sebenarnya Anda menggunakan alamat IP sehingga Anda harus mengaksesnya menggunakan kombinasi angka seperti 172.217.24.163. Hal ini tentu menyulitkan pengguna internet. Maka dari itu ada sebuah nama domain untuk memberikan kemudahan bagi pengguna internet.

Jadi bagaimana nich caranya membeli nama domain? Coba masuk ke website DomaiNesia, dengan harga murah Anda sudah bisa mendapatkan nama domain dan Anda sudah berada selangkah lebih depan untuk memiliki website sendiri.

2. Website

Setelah Anda memiliki nama domain, tahap berikutnya adalah bagaimana cara membuat website sendiri. Analoginya begini, Anda sudah membeli beraneka jenis sayur-sayuran di pasar, setelah dibeli sayur-sayuran tersebut belum bisa dikonsumsi. Anda harus memasaknya terlebih dahulu. Tahapan memasak itulah sama dengan tahapan membuat website.

Jika Anda adalah orang IT, berarti bersyukurlah Anda bisa membuat website sendiri. Masalahnya bagaimana nich kalau bukan orang IT. Solusinya adalah gunakan saja jasa freelance atau software house untuk membuat website. Harga pembuatan website sekarang ini bisa dibilang tidak terlalu mahal kok, jadi Anda tidak perlu stres tinggal menunggu pembuatan website-nya selesai. Ya ibarat menunggu koki menyiapkan masakan di dapur. Mudah kan? ^^

Ada lagi nich solusi berikutnya, ini sich cocoknya buat Anda yang walaupun bukan orang IT tapi ingin mencoba membuat website. Sebenarnya sudah ada beberapa aplikasi, Anda tinggal melakukan instalasi dengan sekali klik. Coba nich Instant Deploy.

3. Hosting

Ini nich yang ditunggu-tunggu, yaitu tahapan hosting. Mungkin Anda bingung nich, bukannya tadi sudah ada nama domain, untuk apa hosting?

Website yang sudah dibuat, itu harus disimpan ke hosting. Analoginya sayur-sayuran yang sudah dimasak tadi, harus disimpan terlebih dahulu jika sekarang belum waktunya makan. Memang hosting untuk pemula terkadang bisa membuat Anda bingung. Makanya, Anda harus memahami tips untuk memilih hosting yang “pas” untuk website Anda.

Sebelum membeli hosting, pastikan Anda mempersiapkan semuanya, disarankan proses hosting ini dilakukan oleh orang yang berpengalaman. Kalau website dibuat oleh software house, sekalian saja minta hosting. Anda hanya perlu mengerti tips-tipsnya untuk menambah wawasan.
1. Sesuaikan spesifikasi hosting dengan website yang dibuat. Jangan sampai Anda memilih hosting dengan kapasitas 48 GB namun tapi digunakan untuk website pribadi. Atau jangan sampai Anda memilih hosting dengan kapasitas sedikit padahal untuk toko online yang memiliki transaksi cukup besar.
2. Pastikan Anda mempertimbangkan fitur SSH dan Memcached. Apakah website anda butuh fitur tersebut atau tidak.
3. Pastikan Anda mempertimbangkan resource yang ada dalam Hosting seperti CPU, RAM, SSD Disk Space, dan sebagainya. Jangan sampai tiba- tiba anda terkejut karena website error akibat resource limit.
4. Dan yang terakhir, selalu pilih hosting dengan rincian yang jelas. Jangan mau Anda dibohongi oleh penyedia jasa layanan domain dan hosting. Pastikan anda mengetahui spesifikasi hosting yang ingin Anda beli.

 

Sekarang Anda paham kan semuanya? ^^ Berpikir sederhana saja, maka Anda pasti bisa memahaminya, seperti Mama yang penuh dengan pengertian.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *